Perjuangan Rakyat dan Pemerintah di Berbagai Daerah dalam
Usaha Mempertahankan Kemerdekaan
1.
Pertempuran Surabaya
Pendaratan tentara
sekutu (Inggris) Brigade 49 yang berasal dari divisi india ke-23 di Surabaya
pada awalnya hanya bertugas untuk melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan
tawanan sekutu. Tentara sekutu ynag dipimpin oleh Brigjen A.W.S Mallaby
berhasil mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Indonesia dengan kesepakatan
sebagai berikut:
a.
Inggris
menjamin bahwa dalam pasukannya tidak terdapat tentara NICA (Belanda)
b.
Adanya
jaminan dari kedua belah pihak terhadap keamanan dan ketentraman dalam bentuk
kerja sama
c.
Untuk
mendukung upaya kerja sama tersebut maka akan segera dibentuk kontak Biro
d.
Inggris
berjanji hanya akan melucuti sejata Jepang.
Tetapi pada perkembangan
selanjutnya Inggris telah mengingkari janji. Terbukti pada tanaggal 26 Oktober
1945, lebih dari satu peleton pasukan inggris menyerbu penjara kalisosok.
Keesokan harinya, tanggal 27 Oktober 1945 Sekutu menduduki Pangkalan Udara
Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, Gedung Intematio dan beberapa objek vital lainnya.
Dan disaat yang sama pesawat terbang Inggris menyebarkan pamflet yang berisi
perintah kepada rakyat Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan semua senjata
yang dirampas dari Jepang. Tindakan provokatif ini akhirnya mernupuskan
kepercayaan pemerintah Indonesia terhadap Inggris di Surabaya, sekaligus
menyulut pertempuran. Brigadir Jendral Mallaby tewas dalam tembak-menembak
antara TKR dengan Inggris. Untuk membangkitkan semangat rakyat, Bung Tomo
menyerukan agar rakat Surabaya tidak takut dan tidak menyerah terhadap ancaman
sekutu. Keberanian rakyat Surabaya diperingati setiap tanggal 10 November
sebagai Hari Pahlawan.
2.
Palagan Ambarawa
Tentara sekutu mendarat
di Ambarawa pada tanggal 20 Oktober 1945. Kedatangan merekan disambut dengan
baik oleh masyarakat Semarang karena tujuan mereka adalah untuk mengambil dan
mengurus tawanan Jepang. Namun, pertempuran demi pertempuran terjadi di
Magelang dan Ambarawa antara pasukan sekutu dan NICA dan TKR. Kemudian presiden
Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethel berunding, dan hasilnya pasukan sekutu
mundur ke Ambarawa pada tanggal 21 November 1945. Gerakan mundur pasukan sekutu
tertahan oleh serangan dari pasukan TKR yang dipimpin Sastrodiharjo di Desa
Jambu. Di desa Ngipik pun mereka dihadang lagi oleh Batalyon I Surjosempeno.
Komandan Resimen Banyumas Kolonel Isdiman gugur ketika mencoba membebaskan dua
desa yang dikuasai sekutu. Pertempuran pun meluas disepanjang rel kereta api.
Karena Isdiman gugur, maka pimpinan diambil alih oleh Kol.Soedirman. Beliau
menggunakan taktik untuk menyerang semua posisi sekutu secara bersamaan. Sampai
pada akhirnya tanggal 15 Desember 1945 pasukan sekutu harus mundur ke Semarang.
Setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infantri.
3.
Medan Area
Berita proklamasi sampai
di Medan pada tanggal 22 Agustus dibawa oleh GubernurSumatra Mr. Teuku M.
Hassan. Gubernur ditugaskan untuk menegakkan kedaulatan RI dengan membentuk
Komite Nasional Indonesia wilayah Sumatra. Pasukan sekutu mendarat di Medan
pada tanggal 9 Oktober 1945 dipimpin oleh Brigadir Jenderal T.E.D Kelly diikuti
Tentara NICA yang bertujuan mengambil alih pemerintahan. Peretempuran pertama
meletus pada tanggal 13 Oktober 1945 antara para pemuda dengan pasukan Belanda
yang dikenal dengan pertempuran Medan Area. Pada tanggal 10 Desember 1945
sekutu melancarkan operasi militer yang berdampak pada pertempuran dengan
pasukan TKR dan para pemuda.
4.
Bandung Lautan Api
Pasukan sekutu yang
datang pada bulan Oktober 1945 menghendaki senjata-senjata yang didapatkan para
pemuda agar diserahkan kepada Sekutu. Karena perintah itu tidak diindahkan oleh
para pemuda, maka pada tanggal 21 November 1945 pasukan Sekutu mengultimatum
agar mengosongkan Bandung Utara yang berujung pada seringnya terjadi insiden
antara sekutu dengan para pemuda. Pemerintah RI menginstruksikan agar TKR dan
para pejuang mundur ke luar kota. Akhirnya Bandung Utara dapat dikuasai pasukan
Belanda, sedangkan Bandung Selatan tetap dikuasai oleh pasukan TKR. Belanda
mengeluarkan ultimatum kedua pada tanggal 23 Maret 1946. Para pemuda terpaksa
meninggalkan kota Bandung atas perintah pemerintah RI dengan terlebih dahulu
membakar Bandung Selatan, lalu mundur ke luar kota.
5.
Pertempuran Margarana di
Bali
Belanda mendarat di Bali
pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946 dengan kekuatan 2.000 personel. Akibat
Perjanjian Linggarjati, maka daerah Bali tidak termasuk wilayah RI. Ketika
Belanda hendak membentuk negara boneka yaitu negara Indonesia timur, Letnan
Kolonel Ngurah Rai ditawari untuk bekerjasama dengan Belanda, namun tawaran itu
ditolak. Bahkan pada tanggal 18 November 1946 Ngurah Rai menyerang pasukan
Belanda. Belanda membalasnya dengan mengerahkan semua kekuatan di Bali dan
Lombok, lengkap dengan pesawat terbang. Pertempuran yang dikenal dengan
pertempuran puputan itu dimenangkan Belanda dan Ngurah Rai gugur beserta anak
buahnya, setelah melalukan perang puputan (habis-habisan) pertempuran ini
dikenal dengan sebutan Puputan Margarana.
Comments
Post a Comment